Mengenal Suku Dani: Asal Usul, Kepercayaan hingga Tradisi Potong Jari

Tanggal posting : 09 February 2023
Oleh Admin
tips-trick

Suku Dani adalah salah satu suku yang terkenal dan terbesar yang ada di Papua. Suku ini memiliki keunikan budaya dan tradisi yang menarik untuk dipelajari.
Sebagai salah satu provinsi terluas di Indonesia, Papua memang menjadi rumah bagi banyak Suku Bangsa. Diperkirakan jumlah suku yang menempati Bumi Cenderawasih ini berkisar 466 suku bangsa.

Beberapa suku bangsa yang banyak dikenal di Papua, seperti Suku Asmat, Suku Amungme, Suku Bauzi dan Suku Dani. Sebagian suku lainnya tersebar di berbagai wilayah yang ada.


Suku Dani sendiri mendiami wilayah lembah Baliem yang ada di bagian tengah pegunungan Jayawijaya Papua. Suku ini hidup berkelompok dan tinggal di rumah-rumah yang disebuah honai.

Mereka juga masih memegang teguh adat dan kebiasaan dari nenek moyang dan masih menggunakan teknologi neolitik dari masa lalu. Kaum laki-laki suku ini juga masih menggunakan koteka untuk menutupi kemaluan dan para wanitanya menggunakan pakaian rumbai yang terbuat dari rumput dan serat.

Lantas seperti apa kehidupan, budaya, asal-usul dan tradisi unik dari masyarakat Suku Dani ini? Berikut ulasan lengkapnya sebagaimana dirangkum detikSulsel dari Jurnal Ilmiah Antropologi Budaya Universitas Mulawarman yang berjudul "Adat dan Budaya Suku Dani di Tanah Papua" oleh Dewi Kunthi.

Asal-Usul Suku Dani
Keberadaan Suku Dani sebagai suku asli di tanah Papua sudah dikenal hingga ke mancanegara. Berbagai penelitian dari berbagai negara pun banyak dilakukan untuk mencari tahu seputar kehidupan masyarakat tersebut.

Salah satu penelitian awal yang bersentuhan langsung dengan Suku Dani adalah ekspedisi gabungan antara Amerika dan Belanda pada tahun 1926 di bawah pimpinan M.W. Striiling.

Nama Dani sendiri diberikan oleh para peneliti pada ekspedisi Striiling tersebut. Menurut Le Roux arti nama Dani ini berasal dari bahasa Moni yakni "Ndani" yang berarti "Sebelah timur arah matahari terbit".

Para penduduk asli Suku Dani sendiri tidak tahu siapa yang memberikan nama suku mereka. Namun mereka mengenali "Ndani" sebagai arti "perdamaian".

Namun demikian masyarakat Suku Dani memiliki kepercayaan bahwa nenek moyang mereka berasal dari orang Yali. Sebuah daerah yang ada di sebelah timur Lembah Baliem (sekarang wilayah Yalimo dan Kabupaten Yahokimo).

Kehidupan Masyarakat Suku Dani
Suku Dani sendiri dikenal telah menempati wilayah Lembah Baliem sejak ratusan tahun silam. Mereka hidup sebagai petani yang terampil.

Mereka bahkan telah memiliki kemampuan untuk menggunakan perkakas dan alat-alat pertanian tradisional. Alat-alat seperti kapak batu, pisau dari tulang binatang, bambu dan juga tombak dari kayu galian yang sangat kuat dan berat.

Selain bertani, sebagian masyarakat Suku Dani juga mencari makan dengan berburu dan beternak. Babi menjadi hewan peliharaan favorit sehingga tak jarang harganya bisa sangat mahal hingga ratusan juta rupiah.

Masyarakat Suku Dani juga masih sangat menjaga adat dan budaya dari nenek moyang mereka. Mereka masih sering mengadakan upacara-upacara besar dan keagamaan dengan pesta babi sebagai penghormatan.

Perang antar klan dan kelompok juga masih kerap dilakukan meski tidak sebanyak dulu. Hal ini karena mereka memang dikenal gemar berperang dan memiliki karakter yang keras.

Meski memiliki watak yang keras dan terkesan beringas, namun masyarakat Suku Dani sangat ramah dan punya rasa persaudaraan yang tinggi. Mereka juga memiliki jiwa seni yang cukup tinggi.

Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan mereka dalam mendendangkan nyanyian-nyanyian heroisme dan kisah-kisah inspiratif. Nyanyian-nyanyian tersebut digunakan untuk menyemangati dan membangunkan semangat kala mereka sedang bekerja.

Penduduk dan Sistem Kekerabatan Suku Dani
Jumlah penduduk Suku Dani yang mendiami wilayah Lembah Baliem ini diperkirakan berkisar 60.000 jiwa. Mereka hidup secara berkelompok atau komunal dalam satu komunitas.

Mereka tidak mengenal konsep keluarga, di mana satu orang ayah, ibu dan anak-anaknya tinggal dalam sebuah rumah. Mereka adalah masyarakat yang berkelompok.

Artinya, dalam sebuah tempat yang disebut sili, tinggal beberapa keluarga di dalamnya. Biasanya antara 3-4 kepala keluarga.

Sistem kekerabatan masyarakat Suku Dani ini dapat dibagi menjadi tiga jenis. Yakni Kelompok kekerabatan, paroh masyarakat dan kelompok teritorial.

Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga luas. Yakni terdiri dari 3-4 keluarga inti bersama-sama menghuni tempat tinggal perumahaan.

Paroh masyarakat adalah struktur masyarakat yang merupakan gabungan beberaka klan kecil yang disebut ukul oak (klan besar). Dan Kelompok teritorial yakni gabungan kelompok keluarga luas dalam komplek perumahan (uma).

Masyarakat Suku Dani senantiasa hidup berdampingan dan saling tolong menolong satu sama lain. Misalnya dalam membuka areal perkebunan, mengolah tanah hingga mendirikan rumah mereka selalu bergotong royong yang dipimpin oleh penata adat atau kepala suku.

Sistem Kepercayaan
Dasar kepercayaan atau religi masyarakat Suku Dani adalah menjaga dan menghormati roh nenek moyang. Berbagai upacara dan tradisi dilakukan untuk itu.

Mereka percaya bahwa roh-roh nenek moyang, laki-laki (Suanggi Ayoka) dan perempuan (Suanggi Hosile) masih ada di hutan-hutan dan tinggal di tumbuhan, pohon, hewan dan benda-benda. Karena itulah mereka sangat menjaga hubungan baik dengan alam dan hutan.

Selain itu, untuk lebih menghormati nenek moyangnya, Suku Dani juga membuat Kaneka. Semacam lambang nenek moyang yang dibuat dari batu keramat yang diasah hingga mengkilap.

Mereka melakukan berbagai upcara untuk pemujaan terhadap arwah nenek moyang tersebut. Seperti upacara Rekwasi dimana mereka membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon dan bunga-bungaan untuk ditempel di tubuh. Sementara tangan mereka akan menenteng senjata-senjata tradisional seperti tombak, kapak, parang dan busur panah.

Tradisi Potong Jari
Suku Dani dikenal dengan rasa persaudaraan mereka yang tinggi satu sama lain. Salah satunya dapat dilihat dari tradisi potong jari yang dilakukan saat kehilangan salah satu anggota keluarga mereka.

Bila suami, istri, ayah, ibu, anak atau adik ada yang meninggal dunia, maka mereka tak hanya meratapi dengan menangis. Melainkan mereka akan memotong salah satu jari mereka hingga putus.

Proses memotong jari ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Seperti memotong dengan pisau, kapak, atau parang. Ada juga yang menggigit ruas jarinya hingga putus atau mengikat jari tersebut dengan tali sehingga aliran darah terhenti dan ruas jari tersebut menjadi mati dan kemudian dipotong.

Mereka percaya bahwa memotong jari tangan ini adalah simbol dari rasa sakit ditinggal anggota keluarga yang dicintainya. Selain itu juga sebagai doa untuk mencegah terulang kembali malapetaka yang telah merenggut nyawa dalam keluarga.

Nantinya, kesedihan akibat ditinggal baru akan sembuh jika jari yang terpotong tersebut juga sudah sembuh lukanya.

Bagi Suku Dani, jari dinilai sebagai simbol kerukunan, kesatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun keluarga. Perbedaan bentuk dan ukuran masing-masing jari tangan ini melambangkan keluarga yang saling melengkapi satu sama lainnya.

Setiap jari saling bekerja sama untuk membangun kekuatan sehingga tangan bisa berfungsi dalam melakukan sesuatu. Sehingga kehilangan salah satu ruas jari itu akan mengurangi kekuatan dan kebersamaan tersebut.

Begitu pula halnya dalam anggota keluarga atau kelompok masyarakat. Sehingga tradisi ini menjadi pedoman dasar dalam hidup bagi masyarakat Suku Dani tersebut.

Sumber : https://www.detik.com

(0) yang berkomentar

Silahkan login terlebih dahulu untuk menulis komentar

Berita Lainnya

tips-trik Eco-Enzyme

Baca selengkapnya

tips-trik Eco-Enzyme

Baca selengkapnya

tips-trik Eco-Enzyme

Baca selengkapnya

tips-trik Eco-Enzyme

Baca selengkapnya

tips-trik Eco-Enzyme

Baca selengkapnya

tips-trik Eco-Enzyme

Baca selengkapnya

tips-trik
Waterbom Jakarta is now open as the leading water park and recreation destination in Jakarta.

Baca selengkapnya